Sabtu, 25 Februari 2023

BALADA AKHIR TAHUN



KENYANG ADALAH HIBURAN, LAPAR ADALAH NYANYIAN

Meski listrik tetap menyala sampai dini hari, suasana pekat menyelimuti hati Tulus si anak Yatim yang bersandar di pagar trotoar.

Malam ini berbeda, gumam bocah kecil yang duduk sendirian di antara orang-orang dewasa. 

Yaitu orang-orang yang berjabat tangan dengan malam tahun baru menyantap udang rebus di angkringan. 

Mereka datang dan pergi, tetapi tidak satupun menoleh bocah usia 11 tahun itu.

Bagi si Yatim, membujuk nyanyian apar itu tidak mudah. Keroncong perut yang lengket berbisik, di ember sampah, semoga ada udang sisa .

Tulus, si bocah kecil itu dengan sabar menunggu. Dia tidak mau tergesa kenyang. Karena baginya kenyang adalah hiburan, sepanjang kerongkongan memutar lagu kehidupan.

Lapar adalah nyanyian sehari-hari. Dia yakin, haqul yakin, dentingan langit selalu memberi kepastian : ana dina, ana upa. Gusti paring rejeki kang tanpa kanyana-nyana.

Jam 12 malam telah lewat. Wilujeng pemilik angkringan menggulung tenda. Si Yatim mengumpulkan udang tersisa.

Tiba-tiba kedua tangan si bocah ditarik pelan untuk menerima sebungkus nasi.

Lama benar anak Yatim menatap wajah Wilujeng. Dia seperti tidak mau melupakannya. Tulus berharap, di sorga mereka bisa berjumpa.

Putat, 31-12-2022
(Bambang Wahyu)

BERI MEREKA SEGELAS AIR PUTIH

Berbicara dengan benda langit yang turun ke bumi berupa teknologi komunikasi manusia banyak berlaku tidak adil. 

Manusia terlena. Mereka mengabaikan manusia lain yang menyapa dan meminta pertolongan.

Seperti pada suatu hari, wanita buta datang kepada Rasulullah minta diberi ilmu. 

Astaga, Rasullullah bermuka masam dan berpaling. Lebih merasa penting berbicara dengan pembesar Kaum Musyrik.

Kini, sejarah itu berulang. Tekokogi handphone mengubah segalanya. Orang besar seperti manusia berwajah dewa. 

Wong cilik, wanita-wanita buta menjerit minta petuah sekuat lolong serigala banyak tidak didengar. 

Mereka mengaduh. Mau mengadu ke siapa, cahaya dalam dada meredup. 

Beri mereka, wanita buta segelas air putih agar kerongkongan ilmu membasah. 

Agar tidak bunuh diri di tengah ladang perburuan.

Agar menyempurnakan hidup dengan kalimat laa ilaaha illallaah.

Putat, 30-12-2020
(Bambang Wahyu) 

SEMUT IRENG SEBELUM DAN SESUDAH MASUK LIANG DEMOKRASI

Ratusan juta Semut Ireng memasuki liang demokrasi, kata Mbah Kakung, suatu hari.

Jantan betina hamil tua. Mereka melahirkan Sapi dinamai Kebo Bung. Kebo yang tanduknya besar, kata Mbah Putri pada satu malam.

Kebo Bung adalah Banteng perkasa. Banteng ketaton. Kekuatannya lebih, tutur Simbok, sebelum fajar tiba.

Dia berani menyeberang Bengawan banjir bandang sonder perhitungan, kata Bapak menjelang beduk dhuhur bertalu.

Sebelum adzan asar berkumandang, ini kata Suta, Kebo Bung tanduknya makin besar, tetapi radar penciumannya teramat rendah.

Ibarat timun, Kebo Bung itu timun wuku godhong wolu. Gencar belajar berbuah tetapi gagal menjadi lalapan segar.

Dadap nimbrung bicara. Suroboyo bukan lagi menunjuk kota besar. Kebo Bung hanya asal bertaruh nyawa menghajar raja hutan ke dalam bumbung.

Tiba-tiba Waru mengabarkan, alun-alun Kartasura ada gajah meta, gajah ngamuk, ambruk di rerumputan. Matinya dipatuk ayam. Matinya dirubung Semut.

Ancaman besar orang besar adalah Semut Ireng. Wong cilik ongklak-angklik, yang tempo hari menyediakan dingklik oglak-aglik.

Kapan pun hajatan demokrasi dilakukan, meriah atau bubrah, tergantung Semut Ireng.

Kalian semua adalah Semut Ireng. Jangan mengubah diri menjadi Kebo Bung. Jangan salin roh menjadi Banteng Ketaton kemudian menabrak kerasnya pagar beton.

(Bambang Wahyu)
Putat, 29-12-2022

PADA SEBUAH PINTU, DOSA SIAPA MENUNGGU 

Kuncup bunga masih ada. Lupa rasa, tidak. Cara mekar saja yang hilang sejak kau menolak kehangatan matahari.

Daun cemara, hijaunya utuh, tetapi tidak mau menimbang rasa. Dia sibuk dengan angin melambai.

Lupa rasa, tidak. Membuka tutup benang sari saja tanganmu bergegas menepis rindu.

Kambium meleleh lelah merangkak di kulit dan batang yang mulai mengelupas disorong umur.

Lupa rasa, tidak. Bahasa nafas berayun seperti dulu. Aku kenal, aku juga hapal. Mengapa sulur beringin tak mau merangkul langit.

Cukup lama kita menunggu maaf. Lupa rasa, tidak. Mana mungkin kita tega melihat kematian sebuah hati. 

Ada janji yang terbawa sampai uzur. Lupa, tidak. Kedua anak telah membantu menggulung layar membuang sauh.

Berlabuh di mana perahu kita, berlabuh di mana. Bukan di laut, tetapi di langit tinggi. 

Membaca kitab kuno sebelum gerbang dibuka mengapa menggigil.
Kita berpisah atau bersatu mengapa termangu.

Tak ada cerita langkah mundur. Maju adalah nasib, tidak selesai kita berkelahi menipu diri sendiri.

Putat, 28-12-2022
(Bambang Wahyu) 

TURUN JAKARTA MENJELANG PESTA

Rombongan makhluk langit turun ke bumi 22 Desember 2022. Mereka berkeliling ke seluruh sudut kota Jakarta. Masing-masing membawa peta, mencocokkan dengan teliti untuk bahan sebuah laporan.

Tahun 2024, Jakarta memilih pemimpin dalam pesta demokrasi besar-besaran.

Jauh sebelum Jakarta melakukannya, 
Ibrahim telah diuji. Dia melaksanakan ujian dengan sempurna.

Ibrahim serta anak cucunya ditetapkan menjadi pemimpin seluruh manusia. Adalah benar, namun ketetapan itu tidak berlaku bagi orang-orang zalim.

Setiap kalian adalah pemimpin, kata Bukhari Muslim. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.

Pemimpin berada di seluruh lini kehidupan. Suami memimpin istri, istri memimpin anak, dan anak memimpin dirinya sendiri.

Dan kalian, bisa menjadi pemimpin negara melalui lorong demokrasi yang sempit, lembab, berbahaya, karena ongkosnya tidak tertakar dan tidak terkendali.

Pemimpin memang berada di posisi atas walau sebenarnya sehari-hari mereka berada di lapisan paling bawah.

Pemimpin ibarat pohon, adalah akar tunjang dan akar serabut. 

Mereka ditugasi mencukupkan sandang, papan pangan, kesehatan, pendidikan bagi rakyat selaku pemilik negara.

Menjadi pemimpin, kalian dilarang sombong, karena sombong adalah baju kebesaran Sang Pemilik alam semesta. Hanya Dia yang berhak memakai baju kesombongan itu.

Rombongan makhluk langit utu kembali terbang, tugas mereka telah selesai, dengan laporan lengkap.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jakarta telah BERIMAN, tulis laporan mereka.

Tuhan tersenyum, karena laporan itu tidak valid. Allah maha teliti: BERIMAN itu hanya Bersih, Indah, dan Nyaman. Tidak ada kaitannya dengan keesaan-Nya.

Putat, 27-12-2022
(Bambang Wahyu)

KAPAL WISATA MENABRAK GUNUNG 

Politik adalah panglima sudah lama lewat. Sudah lama lewat, tetapi masih diingat.

Hampir setiap hari tahun 1962, Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia bentrok dengan Lembaga Kesenian Rakyat. Sumbu pendeknya politik adalah panglima.

Soeharto berkuasa semboyannya berbeda. Ekonomi adalah panglima. Dibuktikan dengan kemampuan mengekspor beras tahun 1983.

Kekuasaan Soeharto rontok tahun 1998. Pada orde reformasi semboyan itu berlanjut dan melebar.

Diciptakan anak semboyan pariwisata adalah panglima.

Hampir semua desa memaksa diri membangun tempat wisata meski tanpa roh. 

Yang dilakukan hanya membangun tempat swafoto, dan kegiatan musiman tidak berkelanjutan. Sekarang banyak yang bobrok dan mangkrak.

Pemerintah ikut salah tetapi enggan mengaku salah. 

Pariwisata bukan sektor primer tetapi sektor sekunder.

Kelak ada masanya masyarakat bosan dengan pariwisata karena jalan diperlebar tetapi rasanya semakin sempit. 

Para tokoh yang sekarang merasa jagoan dalam memadukan kuliner dan bentang alam, esok akan menyesal karena dagangannya tidak dibeli orang.

Pariwisata yang dipanglimakan ibarat kapal, dia menabrak gunung es. Perahu wisata pecah berantakan. Terkubur di laut kemiskinan.

Kapal ekonomi, perahu pariwisata bukan penyelamat bangsa, bukan kapal Nabi Nuh yang membawa umat ketika hujan tidak berhenti sesaat. 

Putat, 26-12-2022
(Bambang Wahyu)

Jangan dikira kikir itu baik. Ternyata tidak. Kikir itu buruk. Sangat buruk.

Banyak manusia mengira, harta yang mereka kikirkan akan dikalungkan di leher pada hari pembalasan. Ternyata tidak.

Mulai akil balik yang dikalungkan di leherku adalah kitab catatan baik dan buruk. Pada hari perhitungan kitab itu dalam posisi terbuka. Aku harus membacanya sendiri.

Membaca dengan teliti, seperti perut mengubah makanan dan minuman menjadi energi. Mulut tidak lagi bisa berbuat apa-apa. 

Kalori dalam makanan dan minuman digabung dengan oksigen menghasilkan energi bukan lagi kewenangan mulut. 

Pada hari akhir, mulut dikunci. Tidak kuasa lagi bicara. Tangan ngomong, kaki bersaksi tentang semua perbuatan.

Sudahkah sampai kepadamu berita gembira tentang hari akhir, hari pembalasan, hari perhitungan itu? 

Hari itu semua manusia menyesal. Mulut tak lagi bicara, kecuali menyesal.

(Bambang Wahyu)

Jangan dikira kikir itu baik. Ternyata tidak. Kikir itu buruk. Sangat buruk.

Banyak manusia mengira, harta yang mereka kikirkan akan dikalungkan di leher pada hari pembalasan. Ternyata tidak.

Mulai akil balik yang dikalungkan di leherku adalah kitab catatan baik dan buruk. Pada hari perhitungan kitab itu dalam posisi terbuka. Aku harus membacanya sendiri.

Membaca dengan teliti, seperti perut mengubah makanan dan minuman menjadi energi. Mulut tidak lagi bisa berbuat apa-apa. 

Kalori dalam makanan dan minuman digabung dengan oksigen menghasilkan energi bukan lagi kewenangan mulut. 

Pada hari akhir, mulut dikunci. Tidak kuasa lagi bicara. Tangan ngomong, kaki bersaksi tentang semua perbuatan.

Sudahkah sampai kepadamu berita gembira tentang hari akhir, hari pembalasan, hari perhitungan itu? 

Hari itu semua manusia menyesal. Mulut tak lagi bicara, kecuali menyesal. 

Putat, 25-12-2022
(Bambang Wahyu)
V
SETIAP TAHUN BARU HANYA MENJADI TUA

Manusia berbondong-bondong berkumpul pada ribuan titik. Dalam sekali tarik nafas mereka mengucap dua kalimat yang berbeda. 

Selamat tinggal tahun 2022. Selamat datang tahun 2023. Apa mereka tahu tentang kalimat yang mereka ucapkan?

Aku bertanya kepadamu. 

Apa yang mereka tinggalkan di tahun 2022. Apa yang mereka jemput di tahun 2023?

Aku bertanya kepadamu.

Berpayung langit dinihari mereka berbisik di tengah genderang hura-hura yang memekakkan dan menyesakkan dada. 

Ideologi masih sama. Politik tidak berubah. Ekonomi makin terjajah. Sosial budaya seperti sampah. Pertahanan keamanan merebah. Apa tahun 2023 bakal ada pembalikan?

Aku bertanya kepadamu.

Ideologi tidak berubah, hanya berpindah.
Mereka meninggalkan komunisme, menjemput kapitalisme. Keduanya ibarat daun sirih lumah lan kurebe. Dinulu seje rupane ginigit tunggal rasane.

Melepas baju komunisme mengenakan baju liberalisme apakah itu perubahan ke arah kebaikan?  
V
Aku bertanya kepadamu.

Separatisme tanpa dan dengan senjata melebar ke mana-mana atas nama hak asasi manusia. 

Menyusul Bupati Meranti menantang perang Presiden Jokowi. Itu pergaulan politik macam apa? 

Aku bertanya kepadamu.

Barang impor melimpah. Perekonomian dikuasai asing. Kesenjangan sosial melebar. Kesempatan kerja menyempit. Kemiskinan tak terkendali. Korupsi merajalela. 

Siapa yang menjadi tumbal di setiap tahun baru? 

Aku bertanya kepadamu.

Ancaman sosial budaya datang dari dalam dan luar negeri. Dipicu kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan ketidakadilan. 

Kaum hedonis bergaya hidup mewah. Mereka lebih suka barang luar negeri. Hidup mabuk-mabukan, foya-foya, bergaul bebas.

Individualisme mengemuka. Westernisasi budaya barat diagungkan. Gotong royong pudar. Solidaritas keropos. Nafas keagamaan melemah.

Di sudut mana kesalahan bangsa ini? 

Aku bertanya kepadamu.

Konflik suku, agama, ras, dan antar golongan terus mengancam pertahanan keamanan.

Siapa yang terus menjadi tumbal di setiap penyambutan tahun baru Masehi? 

Aku bertanya kepadamu.

Perubahan macam apa yang akan dilakukan oleh para pemimpin di tahun 2023? 

Aku bertanya kepadamu.

Kalau para pemimpin pikirannya hidup, maka hidupnya merupakan proses yang terus-menerus memperbaiki diri. Yang buruk dibuang yang baik dipasang, supaya rakyat tidak menjadi tumbal.

Sebagian besar manusia, di setiap tahun baru hanya bertambah tua karena mereka sungkan memudakan pikirannya.


Putat, 24-12-2022
(Bambang Wahyu)






Rabu, 10 Juni 2020

"TIBA URIP" DALAM AQUARIUM


Hamba terima sepucuk surat berupa daun tiba urip. Jatuh di aquarium mana  terus bersandar, tak lelah karena badai.

Tetapi menghitung enam puluh tujuh anak tangga seperti menimbang kegelisahan. 

Yang terlampaui dengan sempurna terasa belum sebiji zarah. Suka menghamba pada aroma kemenyan dan halusinasi keduniaan menghunjam pada kedalaman jiwa. Tangan gagap menggapai kemurahan dan kasih sayang.

Kesesatan terbesar tidak akan terampuni, ketika Paduka murka, dan hamba terus melata bergelimang kebodohan. 

Masih ada yang tersisa. Seberapa jauh akan hamba tempuh, tanpa kekuatan dan petunjuk, hamba akan terkunci  di dalam api. 

Hamba mohon pintu lain terbuka, karena kemahaagungan Paduka.


Putat 10 Juni 2020
Bambang Wahyu Widayadi

Rabu, 21 November 2018

SAJAK KURSI (untuk tuan E)

Batas gelap dan terang hanya setipis kulit bawang
Makna keduanya bukan di ujung mata tetapi pada kepingan dada
Tatkala ronggamu termangu, terang akan menjadi gelap
Dan ketika pintu terbuka gelap adalah cahaya ilham
Menulis nasib dengan tinta pasrah ibarat sebait doa
Selirih apapun sampai juga di pelataran agung
Air tak pernah menyesal mengapa dirinya tak sekeras batu

Senin, 04 September 2017

Corat-Coret di Dinding


PINDUL BERNYANYI DALAM DIAM


Lukisan dindingmu membisu
Langit-langit menitikkan air melahirkan stalaktit
Seperti cendawan
di sela gememericik bening sampai jauh.

Orang-orang memandangmu sebagai batu tanpa suara
Menengok sekejab, kala mereka merasa  lapar  dahaga.

Tetap bernyanyi dalam diam adalah lambang kesetiaan
Bisumu sungguh mengagumkan
Kudengar riuh menawarkan cahaya cinta.

Orang-orang bebal tak sanggup menghitung
berapa juta tahun hatimu bercinta tanpa menampik kehangatan

Siapa penitah mulutmu melambai berbagi bunga
Itu kebisuanmu, kudengar suatu pagi
Tetaplah bernyanyi, sampai  orang-orang merasa menjadi duli. 

Putat, 1 Sept 2017


SETIAMU TAK SENDIRIAN

Matahari naik baru sepenggalah
Terangnya menyapa embun di bibir pematang
Iblis berwajah malaikat merendah
Menyapamu, mengaku utusan para dewa

Akulah sang penyelamat dari negeri pisang
Mewartakan, wajamu akan semakin dikagumi dunia
Ketika semua kecantikan kucatat dalam buku sejarah
Bernama kelindan geopark.

Suara malaikat berwajah iblis menggema di relung goa
Menampik keagungan seperti peristiwa purba
Kala iblis diperintah bersujud kepada Adam.

Mulut besarnya menantang
Tuhan tidak lebih dari seonggok cahaya
Bermain di atas singgasana
Berdansa atas nama kekuasaan.
 
Rombongan anjing liar pun bersorak
Mereka mengiyakan seruan para mucikari taman bumi
Tanpa mendengarkan rintihan pelanmu.

Aku berdiri gemetar
Aku merinding menyaksikan deritamu
Aku gerah mendengar tawa dukamu
Aku meminjam sabit tukang rumput.

Ingin rasa aku memangkas persekongkolan
Iblis dan rombongan anjing liar
Yang memperdagangkan kecantikan pesonamu
Goa Pindul, setiamu tak sendirian.

Putat,  2 Sept 2017


PINDUL SUATU KETIKA


Air cintamu tak dirindukan
Kutakmau bilang apa
Dua orang penunggang kuda
Berebut memanjat pinang
Hingga air cintamu menjadi buih yang mendidih.


Basah cintamu tak dirasakan
Kutakmau bilang pedih
Menyaksikan tingkah para pendekar
Meneguk dengan cara tak sepatut
Binatang berebut tulang.


Gema cintamu tak dikumandangkan
Mereka takmau bilang suka
Atas kuasa kerongkongan
Terus memanjat kegalauan
Sampai nafas  putus tergadai


Bahasa Cintamu tetap di sini
Pada relung para musyafir
Tak kenal penat menjinjing munajat
Api tak bermusuhan dengan air
Api membakar cintamu tetap di tanah

Putat, 3 Sept 2017



TAK SENASIB TAK SEPERAHU


Belalang tua menatah cemara
Menitip generasi pada pelukan kemarau
Diamlah ternina  anak-anakku
Sejarah letihmu tersabung, riak hidupku tersambung

Relakan ibu merayap pada dingin ranting petang
Benang ketulusan mengantarku ke jiwa peraduan
Selamat tinggal cemara, selamat tinggal anak manja

Tak senasib tak seperahu adalah kita
Mereka tertawa kita ternoda
Sudahlah, tak senasib tak seperahu adalah kita

Ketika bapak masih jejaka,  ibu masih perawan
Jangan bertanya, engkau ada di mana
Kalian menyatu pada hangatnya kekuasaan
Meski susah mengingat, pasti kelak kau tambatkan
Pada sungai, pada semilir angin damai

Putat, 4 September 2017


CERITA PEREMPUAN BERNAMA DARMI


Dia  memilih mimpi mengumpulkan kerak cahaya
Mendewakan kecantikan, meninggalkan keabadian
Aku pantang menampar kata pada ibu yang melahirkan
Tapi bagaimana dengan perempuan ini

Dia berjalan dengan kepalannya  
Kereta halusinasi  memutar pundi-pundi tak terbilang
Perempuan ini merebut angan memanjat kegelisahan
Isyarat dia tertipu cermin kebahagiaan semu

Bagaimana perempuan ini
Dia merasa memiliki padahal tak mencintai
Sujudlah seperti awan menjadi mendung
Jatuh mengalir ke tempayan bernama laut
  
Sepiring nasi sudah diukur
Kenyang perut sudah ditimbang
Roro Sudarmi makin menggila
Di mulut goa kelelawar belum menyapa

Putat, 5 Sept 2017


Minggu, 31 Mei 2015

OKTOBER 2012 PADA HARI KE 7

 
Tengadah bumiMU
Ku rasa seperti hampir kelu
Tetapi sedikit pun tak terdengar
Doa yang menagih kebesaranMU

Aku terkalahkan oleh kesabaran
Retak tanah yang menunggu gerimis

Tiba tiba ribuan jarum Kau jatuhkan dari pelupuk langit
Saat senggama alam itu orgasme
Lahir pepucuk yang menjanjikan noktah
Bawa hidup ini teramat sederhana

Sebuah kunci pas memberi tautan
Umat yang bodohlah yang terbiasa
Menafsirkan hidup ini rumit

Bakal kucatat di ketiak dunia maya
Ilmu yang Engkau berikan walau itu sedikit ternyata maslahatnya luar biasa

Tubuhku akan membumi
Berputar sambil memohon hidayahMU

RINDUKU BERBATAS WAKTU


Kelak kamu bakal mengerti makna kebersamaan setelah laut tak berombak
Ibunda menulis pesan di pasir sepanjang Parangtritis


Kesendirian niscaya seperti serdadu tanpa senjata
Hanya pandai cemburu ketika musuh tertawa


Batas rindumu ada di langit biru
Ingin menganyam kasih dengan benang awan. putih


Jangan duka kalau langkahku naik suaka
Pesan Ibunda di langit jingga

MALAM-MALAM SEORANG BOCAH MENGETUK PINTU

(sepucuk salam buat vi)

Kekecewaan merayap pada labirin fajar
Tatkala tamu kecil menggeliat di pintu purba

Perempuan muda berganti baju, gemetar tangan gerah menggapai
Lelaki merinding termangu, dada beku menghitung dosa

Kemudian dia bertanya, sesungguhnya kesalahan itu milik siapa
Malam pekat menjawab, biasakan telingmu menikmati cahaya
Supaya lidahmu menerima air selautan