Minggu, 31 Mei 2015

OKTOBER 2012 PADA HARI KE 7

 
Tengadah bumiMU
Ku rasa seperti hampir kelu
Tetapi sedikit pun tak terdengar
Doa yang menagih kebesaranMU

Aku terkalahkan oleh kesabaran
Retak tanah yang menunggu gerimis

Tiba tiba ribuan jarum Kau jatuhkan dari pelupuk langit
Saat senggama alam itu orgasme
Lahir pepucuk yang menjanjikan noktah
Bawa hidup ini teramat sederhana

Sebuah kunci pas memberi tautan
Umat yang bodohlah yang terbiasa
Menafsirkan hidup ini rumit

Bakal kucatat di ketiak dunia maya
Ilmu yang Engkau berikan walau itu sedikit ternyata maslahatnya luar biasa

Tubuhku akan membumi
Berputar sambil memohon hidayahMU

RINDUKU BERBATAS WAKTU


Kelak kamu bakal mengerti makna kebersamaan setelah laut tak berombak
Ibunda menulis pesan di pasir sepanjang Parangtritis


Kesendirian niscaya seperti serdadu tanpa senjata
Hanya pandai cemburu ketika musuh tertawa


Batas rindumu ada di langit biru
Ingin menganyam kasih dengan benang awan. putih


Jangan duka kalau langkahku naik suaka
Pesan Ibunda di langit jingga

MALAM-MALAM SEORANG BOCAH MENGETUK PINTU

(sepucuk salam buat vi)

Kekecewaan merayap pada labirin fajar
Tatkala tamu kecil menggeliat di pintu purba

Perempuan muda berganti baju, gemetar tangan gerah menggapai
Lelaki merinding termangu, dada beku menghitung dosa

Kemudian dia bertanya, sesungguhnya kesalahan itu milik siapa
Malam pekat menjawab, biasakan telingmu menikmati cahaya
Supaya lidahmu menerima air selautan