PINDUL BERNYANYI DALAM DIAM
Lukisan dindingmu membisu
Langit-langit menitikkan air melahirkan stalaktit
Seperti cendawan
di sela gememericik bening sampai jauh.
Orang-orang memandangmu sebagai batu tanpa suara
Menengok sekejab, kala mereka merasa lapar dahaga.
Tetap bernyanyi dalam diam adalah lambang kesetiaan
Bisumu sungguh mengagumkan
Kudengar riuh menawarkan cahaya cinta.
Orang-orang bebal tak sanggup menghitung
berapa juta tahun hatimu bercinta tanpa menampik
kehangatan
Siapa penitah mulutmu melambai berbagi bunga
Itu kebisuanmu, kudengar suatu pagi
Tetaplah bernyanyi, sampai orang-orang merasa menjadi duli.
Putat, 1 Sept 2017
SETIAMU TAK SENDIRIAN
Matahari naik baru sepenggalah
Terangnya menyapa embun di bibir pematang
Iblis berwajah malaikat merendah
Menyapamu, mengaku utusan para dewa
Akulah sang penyelamat dari negeri pisang
Mewartakan, wajamu akan semakin dikagumi dunia
Ketika semua kecantikan kucatat dalam buku sejarah
Bernama kelindan geopark.
Suara malaikat berwajah iblis menggema di relung goa
Menampik keagungan seperti peristiwa purba
Kala iblis diperintah bersujud kepada Adam.
Mulut besarnya menantang
Tuhan tidak lebih dari seonggok cahaya
Bermain di atas singgasana
Berdansa atas nama kekuasaan.
Rombongan anjing liar pun bersorak
Mereka mengiyakan seruan para mucikari taman bumi
Tanpa mendengarkan rintihan pelanmu.
Aku berdiri gemetar
Aku merinding menyaksikan deritamu
Aku gerah mendengar tawa dukamu
Aku meminjam sabit tukang rumput.
Ingin rasa aku memangkas persekongkolan
Iblis dan rombongan anjing liar
Yang memperdagangkan kecantikan pesonamu
Goa Pindul, setiamu tak sendirian.
Putat, 2 Sept 2017
PINDUL SUATU KETIKA
Air cintamu tak dirindukan
Kutakmau bilang apa
Dua orang penunggang kuda
Berebut memanjat pinang
Hingga air cintamu menjadi buih yang mendidih.
Basah cintamu tak dirasakan
Kutakmau bilang pedih
Menyaksikan tingkah para pendekar
Meneguk dengan cara tak sepatut
Binatang berebut tulang.
Gema cintamu tak dikumandangkan
Mereka takmau bilang suka
Atas kuasa kerongkongan
Terus memanjat kegalauan
Sampai nafas
putus tergadai
Bahasa Cintamu tetap di sini
Pada relung para musyafir
Tak kenal penat menjinjing munajat
Api tak bermusuhan dengan air
Api membakar cintamu tetap di tanah
Putat, 3 Sept 2017
TAK SENASIB TAK SEPERAHU
Belalang tua menatah cemara
Menitip generasi pada pelukan kemarau
Diamlah ternina
anak-anakku
Sejarah letihmu tersabung, riak hidupku tersambung
Relakan ibu merayap pada dingin ranting petang
Benang ketulusan mengantarku ke jiwa peraduan
Selamat tinggal cemara, selamat tinggal anak manja
Tak senasib tak seperahu adalah kita
Mereka tertawa kita ternoda
Sudahlah, tak senasib tak seperahu adalah kita
Ketika bapak masih jejaka, ibu masih perawan
Jangan bertanya, engkau ada di mana
Kalian menyatu pada hangatnya kekuasaan
Meski susah mengingat, pasti kelak kau tambatkan
Pada sungai, pada semilir angin damai
Putat, 4 September 2017
CERITA PEREMPUAN BERNAMA DARMI
Dia memilih mimpi
mengumpulkan kerak cahaya
Mendewakan kecantikan, meninggalkan keabadian
Aku pantang menampar kata pada ibu yang melahirkan
Tapi bagaimana dengan perempuan ini
Dia berjalan dengan kepalannya
Kereta halusinasi memutar pundi-pundi tak terbilang
Perempuan ini merebut angan memanjat kegelisahan
Isyarat dia tertipu cermin kebahagiaan semu
Bagaimana perempuan ini
Dia merasa memiliki padahal tak mencintai
Sujudlah seperti awan menjadi mendung
Jatuh mengalir ke tempayan bernama laut
Sepiring nasi sudah diukur
Kenyang perut sudah ditimbang
Roro Sudarmi makin menggila
Di mulut goa kelelawar belum menyapa
Putat, 5 Sept 2017
