Senin, 04 September 2017

Corat-Coret di Dinding


PINDUL BERNYANYI DALAM DIAM


Lukisan dindingmu membisu
Langit-langit menitikkan air melahirkan stalaktit
Seperti cendawan
di sela gememericik bening sampai jauh.

Orang-orang memandangmu sebagai batu tanpa suara
Menengok sekejab, kala mereka merasa  lapar  dahaga.

Tetap bernyanyi dalam diam adalah lambang kesetiaan
Bisumu sungguh mengagumkan
Kudengar riuh menawarkan cahaya cinta.

Orang-orang bebal tak sanggup menghitung
berapa juta tahun hatimu bercinta tanpa menampik kehangatan

Siapa penitah mulutmu melambai berbagi bunga
Itu kebisuanmu, kudengar suatu pagi
Tetaplah bernyanyi, sampai  orang-orang merasa menjadi duli. 

Putat, 1 Sept 2017


SETIAMU TAK SENDIRIAN

Matahari naik baru sepenggalah
Terangnya menyapa embun di bibir pematang
Iblis berwajah malaikat merendah
Menyapamu, mengaku utusan para dewa

Akulah sang penyelamat dari negeri pisang
Mewartakan, wajamu akan semakin dikagumi dunia
Ketika semua kecantikan kucatat dalam buku sejarah
Bernama kelindan geopark.

Suara malaikat berwajah iblis menggema di relung goa
Menampik keagungan seperti peristiwa purba
Kala iblis diperintah bersujud kepada Adam.

Mulut besarnya menantang
Tuhan tidak lebih dari seonggok cahaya
Bermain di atas singgasana
Berdansa atas nama kekuasaan.
 
Rombongan anjing liar pun bersorak
Mereka mengiyakan seruan para mucikari taman bumi
Tanpa mendengarkan rintihan pelanmu.

Aku berdiri gemetar
Aku merinding menyaksikan deritamu
Aku gerah mendengar tawa dukamu
Aku meminjam sabit tukang rumput.

Ingin rasa aku memangkas persekongkolan
Iblis dan rombongan anjing liar
Yang memperdagangkan kecantikan pesonamu
Goa Pindul, setiamu tak sendirian.

Putat,  2 Sept 2017


PINDUL SUATU KETIKA


Air cintamu tak dirindukan
Kutakmau bilang apa
Dua orang penunggang kuda
Berebut memanjat pinang
Hingga air cintamu menjadi buih yang mendidih.


Basah cintamu tak dirasakan
Kutakmau bilang pedih
Menyaksikan tingkah para pendekar
Meneguk dengan cara tak sepatut
Binatang berebut tulang.


Gema cintamu tak dikumandangkan
Mereka takmau bilang suka
Atas kuasa kerongkongan
Terus memanjat kegalauan
Sampai nafas  putus tergadai


Bahasa Cintamu tetap di sini
Pada relung para musyafir
Tak kenal penat menjinjing munajat
Api tak bermusuhan dengan air
Api membakar cintamu tetap di tanah

Putat, 3 Sept 2017



TAK SENASIB TAK SEPERAHU


Belalang tua menatah cemara
Menitip generasi pada pelukan kemarau
Diamlah ternina  anak-anakku
Sejarah letihmu tersabung, riak hidupku tersambung

Relakan ibu merayap pada dingin ranting petang
Benang ketulusan mengantarku ke jiwa peraduan
Selamat tinggal cemara, selamat tinggal anak manja

Tak senasib tak seperahu adalah kita
Mereka tertawa kita ternoda
Sudahlah, tak senasib tak seperahu adalah kita

Ketika bapak masih jejaka,  ibu masih perawan
Jangan bertanya, engkau ada di mana
Kalian menyatu pada hangatnya kekuasaan
Meski susah mengingat, pasti kelak kau tambatkan
Pada sungai, pada semilir angin damai

Putat, 4 September 2017


CERITA PEREMPUAN BERNAMA DARMI


Dia  memilih mimpi mengumpulkan kerak cahaya
Mendewakan kecantikan, meninggalkan keabadian
Aku pantang menampar kata pada ibu yang melahirkan
Tapi bagaimana dengan perempuan ini

Dia berjalan dengan kepalannya  
Kereta halusinasi  memutar pundi-pundi tak terbilang
Perempuan ini merebut angan memanjat kegelisahan
Isyarat dia tertipu cermin kebahagiaan semu

Bagaimana perempuan ini
Dia merasa memiliki padahal tak mencintai
Sujudlah seperti awan menjadi mendung
Jatuh mengalir ke tempayan bernama laut
  
Sepiring nasi sudah diukur
Kenyang perut sudah ditimbang
Roro Sudarmi makin menggila
Di mulut goa kelelawar belum menyapa

Putat, 5 Sept 2017


Tidak ada komentar:

Posting Komentar